MEDIA SUARA INDO – Ribuan mahasiswa Semarang turun ke jalan. Mereka yang tergabung dalam aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Semarang Raya (BEM Sera) menyampaikan lima tuntutan kepada pemerintah.
Aksi demonstrasi mahasiswa tersebut berlangsung di depan kantor Gubernur Jawa Tengah, Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Kamis (22/10/2026).
Aksi sempat diwarnai suasana panas, bahkan terjadi adu mulut dengan Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Roy Hardi Siahaan.
Kapolda mengklaim tak ada mahasiswa yang ditangkap dalam aksi demontrasi tersebut.
Meski demikian, terdapat sekitar seratus orang yang diidentifikasi, disebut sebagai penunggang.
“Kami berharap orang-orang yang sebagai penunggang ini nanti kita proses. Artinya kita coba proses nanti ke depan kita akan gali kira-kira sejauh mana keterlibatan mereka ke depan. Supaya ini tidak terulang lagi,” bebernya.

Seratusan orang ini, klaim Roy, merupakan peserta demonstrasi di luar massa aksi pada sore harinya di depan kantor Gubernur Jateng. Aksi di depan kantor Gubernur Jateng itu, merupakan massa dari Aliansi BEM Semarang Raya berjumlah sekitar 2 ribuan orang.
“Makanya saya bilang kalau dari mahasiswanya pure menyampaikan aspirasi tetapi ada kelompok tertentu yang kita identifikasi sampai 100 orang,” ucapnya.
Beri Nilai Minus 100
Mahasiswa yang terdiri dari berbagai universitas di Semarang itu memulai aksinya sekitar pukul 16.24 WIB.
Mereka membawa sejumlah spanduk protes bertuliskan di antaranya “2 Tahun Cukup” , “2 Tahun Menjabat Yang Meningkat Cuma Emosi Rakyat”.
Aksi tersebut diusung mahasiswa sebagai kritikan atas dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
Tidak hanya tulisan bernada kritik, mahasiswa juga membawa gambar berwajah Prabowo-Gibran seukuran roda mobil. Lukisan Prabowo tampak berekspresi menjulurkan lidah dan dua tangan mengatup di telinga. Sementara Gibran ekspresi wajahnya datar dengan mengenakan topi SMA.
Dua gambar tersebut lantas dibakar mahasiswa sebelum meninggalkan aksi dari depan kantor Gubernur Jateng untuk menunju ke Simpang Lima, Kota Semarang, sekitar pukul 16.55.
Perwakilan mahasiswa BEM Sera, Bima mengatakan aksi kali ini sebagai kritikan atas kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran. Dari penilaian itu, ia memberikan nilai minus 100.
“Jujur ya, kalau diberi nilai 1-10, saya beri minus 100,” ujar Bima.
Ia mengungkap alasan memberikan nilai jeblok itu. Menurutnya, nilai itu pantas karena Indonesia kondisinya justru semakin memburuk atas kepemimpinan dua orang tersebut.
“Bukan saya tidak melihat hal-hal baiknya, tapi kalau kita bicara sebagai presiden dan juga wakil presiden, itu seharusnya tidak seperti ini kejadian di Indonesia, buruknya penanganan bencana hingga jabatan sipil diisi oleh TNI-POLRI,” bebernya.
Selain alasan itu, Bima juga mengungkap keluhan para mahasiswa yang merasa muak atas pemerintahan Prabowo-Gibran.
Hal itu dituangkan dalam lima tuntutan meliputi pertama, stabilkan harga serta permudah akses kebutuhan pokok dan BBM.
Kedua, kembalikan TNI dan juga Polri pada fungsi utamanya.
Ketiga, evaluasi total proyek strategis nasional.
Keempat, kembalikan hak atas tanah kepada rakyat dan pulihkan wilayah terdampak bencana.
Kelima, hentikan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme di lingkungan pemerintahan.
“Lima tuntutan ini sangat mendesak sehingga perlu konsolidasi lebih luas bahkan nasional,” beber perwakilan dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik (PMKRI) Cabang Semarang itu.
Ketika disinggung soal orasinya yang meminta Prabowo-Gibran dilengserkan, Bima menyebut seharusnya kedua pemimpin ini legawa atas kegagalannya memimpin bangsa Indonesia. “Tapi saya yakin mereka betah isin (kuat malu), jadi perlu ada desakan,” ucapnya.
Sementara itu, salah satu mahasiswa, Lira (19) menyebut ikut turun ke jalan karena menilai pemerintahan Prabowo-Gibran sudah sangat kacau.
Mahasiswi ilmu komunikasi ini akhirnya membersamai teman-temannya dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) untuk menyuarakan kegelisahannya sebagai warga dan mahasiswa.
“Pandangan aku sebagai warga biasa dan juga mahasiswa, ini kacau banget sih pemimpinnya. Dia baru menjabat 2 tahun tapi sudah sekacau ini tuh sudah menurut saya memang harus diturunkan,” tuturnya.
Menurut Lira, ada beberapa hal yang meruncingkan penilaiannya buruk ke Presiden dan Wakil Presiden di antaranya program MBG dan Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang memakan anggaran ratusan triliun. Seharusnya, anggaran itu bisa dialokasikan ke sektor mendesak seperti bencana.
“Iya seperti Karhutla yang tidak kunjung terselesaikan,” paparnya.
Ia juga membawa poster “If you burn, you burn with us” artinya Jika kami terbakar, kalian ikut terbakar bersama kami!”
“Kalau rakyat terbakar ya Prabowo juga harus ikut terbakar sama kita. Karena dia harus ikut merasakan penderitaan rakyat. Jangan hanya diam tidak ada tindakan ke bawah,” tandasnya.
Tembus Barikade
Puluhan mahasiswa berhasil menembus barikade ratusan personel kepolisian yang membatasi akses mahasiswa ke Simpang Lima, Kota Semarang.
Sebelum berhasil menembus barikade itu, mahasiswa sempat adu mulut dan saling dorong dengan kepolisian.
Mahasiswa juga sempat membakar alat demonstrasi di Tugu Tunas lalu menarik alat pembatas jalan besi lalu lintas ke tengah jalan.
Aksi tersebut berusaha dihentikan oleh Kapolda Jateng Irjen Pol Roy Siahaan.
Kapolda yang berusaha mengurai aksi lantas adu mulut dengan mahasiswa.
Namun, adu mulut tersebut berakhir buntu. Mahasiswa menolak dibubarkan, sebaliknya polisi kukuh meminta mahasiswa agar meninggalkan lokasi.
Di sela perdebatan itu, dari arah belakang ada seorang mahasiswa membawa suar atau flare menyala merah.
Ia berjalan menembus rombongan Kapolda lalu berlari ke arah Simpang Lima Kota Semarang.
Mahasiswa tersebut lantas dirangkul oleh tiga mahasiswa lainnya untuk berjalan menuju ke Simpang Lima.
Akhirnya empat mahasiswa itu berhasil menuju ke Simpang Lima diikuti oleh puluhan mahasiswa lainnya.
Mereka lantas membuat pagar hidup untuk memblokir jalan Simpang Lima, persis di depan tulisan landmark Simpang Lima.
Ekspresi Kemarahan
Salah seorang mahasiswa, Amin Mustofa mengatakan blokade aksi mahasiswa menuju ke Simpang Lima merupakan tindakan represifitas aparat.
Ia menilai mahasiswa hanya menyampaikan pendapat di muka umum.
Meski, dalam regulasi Undang-undang telah diatur tidak diperbolehkan melakukan aksi demonstrasi melewati batas pukul 18.00 WIB, apa bedanya dengan negara yang juga banyak melanggar regulasi.
“Kenapa kami enggak bisa melanggar undang-undang tersebut. Itu yang kemudian kenapa kita bertahan sampai malam ini, Walaupun kita ditahan, dikepung oleh aparat, tapi kita mempertahankan idealisme kita untuk bagaimana memperkuat api-api gerakan kita,” ucapnya kepada Tribun.
Amin mengatakan tujuan melakukan aksi ke Simpang Lima hanya sebagai langkah menunjukkan kepada masyarakat bahwasanya mahasiswa Semarang Raya marah dengan berbagai kebijakan yang dibuat oleh negara.
“Ya, itu bentuk kemarahan kami,” ujar mahasiswa dari UIN Walisongo Semarang ini.
Kapolda Tandai Mahasiswa
Kapolda Jateng Irjen Pol Roy Hardi Siahaan mengatakan pasukannya melakukan penjagaan aksi mahasiswa sebagai bentuk pengamanan.
“Saya turun tidak pakai pengawalan, jadi tolong teman-teman mahasiswa benar-benar menyampaikan aspirasi, jaga benar,” bebernya dalam memberikan imbauan aksi.
Selain memberikan imbauan, Kapolda Jateng Roy juga beberapa kali terpancing emosi menghadapi mahasiswa yang mengeluarkan kritikan.
Mahasiswa yang menolak diajak bernegosiasi sempat melakukan dorongan ke rombongan Kapolda.
Terutama saat mahasiswa berusaha menarik pembatas jalan milik Dinas Perhubungan.
“Saya tandai kamu,” tutur Kapolda yang ditunjukan ke seorang mahasiswa.
Aksi saling debat itu lantas berlanjut hingga menuju ke Simpang Lima Semarang.
Kapolda mengikuti arah mahasiswa dari Tugu Tunas sampai ke Simpang Lima.
Arus lalu lintas sempat mengalami kemacetan. Namun, Kapolda dan anggotanya berulang kali berupaya mendorong mahasiswa mundur dari tengah jalan.
“Saya mohon, saya mohon,” teriak Kapolda berulang kali.
Selepas melakukan aksi blokade di Simpang Lima, mahasiswa lantas membubarkan diri karena terdesak dengan anggota kepolisian yang secara jumlah lebih banyak dibandingkan dengan personel kepolisian.
Mahasiswa yang tersisa melakukan blokade Simpang Lima hanya puluhan mahasiswa berbeda jauh dari aksi sebelumnya yang berjumlah ribuan orang.
Mahasiswa mulai membubarkan diri pada pukul 19.29 dari kawasan Simpang Lima.
(Sando)












