Pedagang PKL Alon-Alon Timur: “Mati Tak Mau, Hidup Pun Segan” — Relokasi Kanjengan, Pedamaran & Belakang SC Johar Sepi, Dianggap Skema Oknum

0 0
Read Time:2 Minute, 6 Second

MEDIA SUARA INDO — puluhan pedagang kaki lima kawasan Alon-Alon Timur menyuarakan kekecewaan mendalam pasca direlokasi ke tiga lokasi yang ditetapkan Dinas Perdagangan Kota Semarang: Kanjengan, Pedamaran, dan kawasan belakang Shopping Center Johar. Hampir tiga minggu berlalu, bukan harapan baru yang tumbuh, melainkan keluhan yang memuncak: tempat baru sepi pembeli, omzet jatuh drastis, dan nasib terasa seperti “ditelantarkan.”
‎
‎”Mati tak mau, hidup pun segan.”
‎
‎Demikian lontaran tajam yang terlontar dari para pedagang. Kalimat itu bukan sekadar kiasan — itu kenyataan yang mereka rasakan setiap hari.
‎
‎Para pedagang menuding kebijakan relokasi ini hanya sekadar memenuhi syarat administratif bagi dinas terkait: yang penting sudah diberi tempat, laku atau tidak itu urusan belakangan. Tak ada perhitungan matang mengenai potensi pembeli, akses warga, maupun kelayakan lokasi.
‎
‎Skema Melibatkan Oknum pedagang — Hasilnya Zonk
‎
‎Kekesalan terbesar pedagang bukan hanya soal omzet yang hilang, melainkan cara proses pemindahan terjadi. Para pedagang meyakini adanya skema yang memanfaatkan oknum pedagang  yang seolah-olah memperjuangkan nasib mereka, padahal justru mengarahkan ke tempat yang tidak menguntungkan.
‎
‎”Kami percaya di awal, lalu ditinggal. Lihatlah sendiri — para pengurus yang mengusulkan relokasi ke Pedamaran, Kanjengan, dan belakang SC Johar, mereka sendiri tidak berjualan di sini.” ujar salah satu pedagang di lokasi Kanjengan dengan wajah muram.
‎
‎Kenyataan berbicara: pesta pora justru dirasakan pihak-pihak yang mengatur pemindahan, bukan pedagang yang seharusnya dibantu. Tempat baru yang dijanjikan harapan, kini sunyi senyap.
‎
‎Korban Tangan Sendiri — Ditinggal Saat Sudah Pindah
‎
‎Suara serupa datang dari pedagang yang ditempatkan di kawasan belakang Shopping Center Johar.
‎
‎”Saya korban oknum pedagang, juga teman. Saya akhirnya ditelantarkan. Sungguh tidak manusiawi. Jika tidak segera ditangani, kami hancur begini.” ungkapnya dengan nada bergetar.
‎
‎Para pedagang menyayangkan kerasnya penggunaan sesama saudara pedagang untuk memecah belah kekuatan mereka. Rasa kepercayaan yang diberikan dikhianati.
‎
‎Pesan Tegas untuk Pedagang Lain: Jangan Ikut! Bertahan!
‎
‎Para pedagang yang sudah lebih dulu pindah mengirim pesan peringatan keras kepada rekan-rekan mereka yang belum pindah:
‎
‎”Jangan mau ikut arahan dinas maupun oknum pedagang. Jangan sampai bernasib sama seperti kami. Minta kepastian yang jelas, jangan terima dipindah ke tempat yang sepi seperti ini. Bertahanlah, jangan takut!”
‎
‎Mereka berharap Pak Dibyo — yang dipercaya membawa perubahan — benar-benar dapat membawa kebaikan dan keadilan bagi seluruh pedagang PKL Alon-Alon Timur. Mereka tidak meminta kemewahan, hanya satu hal: tempat yang layak untuk mencari nafkah, bukan sekadar tempat untuk ditempatkan.
‎
‎Sementara itu, kabar beredar Tim Pemukul Satpol PP bersiap meratakan bangunan sementara pedagang di lokasi lama setelah pemindahan dianggap selesai. Para pedagang meminta perhatian seluruh pihak, warga, dan awak media agar nasib mereka tidak diabaikan begitu saja.
‎

(Teguh/Sando)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *