MEDIA SUARA INDO – Setiap sore di bulan Ramadhan, suasana di Jalan Raya Bukit Kencana Jaya tepatnya pertigaan Perumahan Dinar Mas dan Perumahan Bukit Kencana Jaya Kelurahan Meteseh, Kota Semarang selalu berubah.
Dari pantauan awak media Jum’at 20/02/2026, jalanan yang biasanya lengang mendadak ramai. Di tepi jalan, depan toko, hingga halaman rumah warga, lapak-lapak sederhana bermunculan. Tenda ukuran 3 x 3, Meja kecil, termos es, wadah plastik, dan spanduk seadanya menjadi saksi hadirnya para penjual takjil dadakan—warga biasa yang hanya berdagang saat Ramadhan tiba.

Bagi mereka, Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga bulan harapan. Harapan untuk mendapatkan tambahan penghasilan, sekadar menutup kebutuhan rumah tangga, atau menyisihkan sedikit rezeki untuk Lebaran.
Salah satunya adalah Ibu Misnati warga Perumahan Bukit Kencana Jaya, sehari-hari jualan sate ayam. Hari biasa Ibu Misnati jualnya di sebelah kiri pertigaan Dinar Mas, Namun pada Ramadhan ia menempati tempat disebelah kanan pertigaan. Hari pertama diawal bulan Puasa ini ibu Misnati dapat terjual sekitar 500 tusuk, kalau hari biasa hanya sekitar 200 tusuk.

“Kalau hari biasa saya bawa sekitar 200 tusuk, tapi kalau Ramadhan gini bisa laku 500 tusuk”, katanya. Sayang kalau dilewatkan. Lumayan buat tambah-tambah belanja,” katanya sambil merapikan sate yang ada di panci.
Banyak penjual takjil dadakan mengaku penghasilan yang didapat naik. Namun resiko juga harus dihadapi jika cuaca tidak mendukung, seperti hujan deras diwaktu sore. Ramadhan menjadi momen untuk mencoba peruntungan, meski dengan peralatan dan pengalaman terbatas.

Berjualan takjil bukan tanpa risiko. Cuaca menjadi faktor utama. Hujan deras bisa membuat pembeli sepi. Sebaliknya, sore yang cerah sering kali membawa rezeki lebih. “Kalau hujan, kadang banyak sisa. Tapi kalau panas, sebelum magrib kadang sudah habis,” tutur ibu Misnati
Keuntungan pun tidak selalu besar. Ada hari-hari ketika hasil bersih hanya cukup untuk menutup modal. Namun bagi para penjual dadakan, yang terpenting adalah usaha dan keberkahan.
“Tidak harus untung besar. Yang penting ada tambahan, tidak kosong,” kata ibu Misnati.

Meski jumlah penjual takjil meningkat drastis saat Ramadhan, persaingan jarang menimbulkan konflik. Para pedagang justru lebih banyak menunjukkan sikap saling menghargai.
Di beberapa titik, penjual bahkan saling berbagi pembeli. Jika satu lapak kehabisan es, pembeli diarahkan ke lapak sebelah. Ada pula yang saling menjaga dagangan ketika salah satu harus salat atau ke toilet.
“Namanya sama-sama cari rezeki Ramadhan. Tidak enak kalau saling sikut,” ujar seorang penjual es kuwut.
Kebersamaan inilah yang membuat suasana Ramadhan terasa berbeda. Bukan sekadar transaksi jual beli, tetapi juga solidaritas antarwarga.
Bagi pembeli, takjil adalah pelengkap berbuka puasa. Namun tanpa disadari, membeli takjil dari pedagang dadakan juga menjadi bentuk dukungan ekonomi kecil-kecilan.
“Lebih senang beli di warga sekitar. Selain dekat, rasanya juga seperti bantu,” kata Rassyai, salah satu pembeli yang rutin membeli takjil di sekitar rumahnya.
Interaksi singkat antara penjual dan pembeli sering kali melahirkan obrolan ringan. Tentang cuaca, harga bahan, atau sekadar saling mendoakan agar puasa lancar.
Menjelang azan magrib, suasana semakin sibuk. Penjual melayani pembeli terakhir, menghitung sisa dagangan, dan bersiap menutup lapak. Ada rasa lega jika dagangan habis, ada pula rasa pasrah jika masih tersisa.
Sebagian penjual memilih membawa pulang sisa dagangan untuk keluarga. Ada juga yang membagikannya kepada tetangga atau anak-anak sekitar.
“Kalau ada sisa, biasanya saya bagi. Anggap saja sedekah,” kata Imel sambil tersenyum.
Bagi para penjual takjil dadakan, Ramadhan adalah bulan kerja keras sekaligus bulan penuh harap. Meski hanya sebulan, hasilnya sering kali sangat berarti. Ada yang menggunakannya untuk membeli baju Lebaran anak, membayar utang kecil, atau sekadar menambah tabungan.
Di balik ramainya lapak takjil di daerah Meteseh, tersimpan kisah-kisah sederhana tentang perjuangan hidup. Kisah orang-orang biasa yang memanfaatkan Ramadhan bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk bertahan dan berharap.
Ketika bulan suci usai, lapak-lapak itu akan menghilang. Namun cerita tentang rezeki dadakan di sore Ramadhan akan selalu kembali—setiap tahun, di kota yang sama.
(Sando)
