MEDIA SUARA INDO – Generasi anak zaman sekarang hidup serba teknologi canggih, mereka dapat menikmati segala hidup yang serba modern. Dengan teknologi yang serba canggih, ada smartphone, video instan, Whatshap, Tik-tok. Semua serba instan, semua sudah tersaji dengan cepat sesuai kemauan.

Berbeda dengan Generasi tahun 70 – 80an mereka melewati masa transisi teknologi, menikmati permainan outdoor, menghadapi keterbatasan yang membentuk kreativitas, dan mengembangkan naluri bertahan hidup yang mungkin terdengar sederhana—namun itulah keterampilan yang membuat mereka tangguh hingga hari ini.

Hal tersebut disampaikan oleh Widodo, S.Akun yang biasa di panggil Sando salah satu Jurnalis Media Suara Indo, Kamis, 26/03/2026. Sando memberi kisah, ada salah satu contoh generasi tahun 70–80an tumbuh dengan peta kertas, petunjuk arah verbal, dan intuisi geografis yang terasah. Mereka terbiasa mengingat rute, menghafal patokan seperti “belok kiri di warung hijau”, atau membaca papan jalan dengan cepat. Sementara anak masa kini, sekalipun sudah lewat di satu tempat berkali-kali, tetap bisa tersesat tanpa ponsel.

Sando mengisahkan Kembali pada waktu itu generasi tahun 70-80an Tidak ada smartphone. Tidak ada video instan. Tidak ada TikTok. Jika bosan, mereka menemukan cara: membaca komik, bermain kartu, menggambar, atau sekadar melamun. Generasi tersebut dibesarkan dengan kesabaran sebagai otot mental – bukan kelemahan.

Generasi zaman sekarang, kemampuan menunggu satu menit saja terasa menyiksa bagi banyak anak yang terbiasa stimulasi cepat. Generasi 70-80an jika Mainan rusak ? Disolder. Radio bunyi parau ? Dibuka dan dibersihkan. Celana sobek ? Dijahit sendiri, katanya.

Generasi 70–80an tumbuh dengan budaya “perbaiki dulu, beli nanti”. Pergi selepas sekolah, pulang saat matahari tenggelam. Tidak ada pelacakan GPS, tidak ada pesan “di mana kamu?”, tetapi semua baik-baik saja. Inilah yang membentuk kemampuan bersosialisasi, negosiasi, problem solving, dan kemandirian mental.

Generasi tersebut belajar menghadapi risiko nyata—jatuh saat bermain, tersesat sedikit, atau bertemu orang asing—dan justru itulah pengalaman yang membangun insting hidup mereka. Hiburan waktu itu sederhana: radio, kaset, televisi dengan channel terbatas, atau permainan fisik. Tidak ada notifikasi, tidak ada distraksi setiap detik.

Mereka belajar fokus dan menikmati aktivitas sepenuhnya—entah membaca majalah Bobo, merakit model pesawat, atau mendengarkan album kaset sampai pita hampir kusut. Fokus mendalam ini kini menjadi kemewahan. Tidak ada LEGO mahal ? Batang kayu pun jadi pedang.
Tidak ada board game? Kreasi sendiri dari kardus. Tidak ada gadget? Imajinasi mengambil alih. Generasi 70–80an tumbuh dengan kemampuan menciptakan permainan, alat, atau cara baru untuk bersenang-senang tanpa perlu benda canggih. Uang saku itu berharga. Tidak ada e-wallet, tidak ada “top up”, tidak ada microsubscription. Setiap rupiah dihitung, ditabung, dan ditukar dengan sesuatu yang betul-betul diinginkan.

Keterampilan mengelola uang ini terbawa hingga dewasa—membuat mereka lebih sadar nilai barang, lebih bijak dalam membeli, dan tidak mudah tergoda impuls belanja instan.
Tidak ada ghosting. Tidak ada passive-aggressive lewat chat. Jika bertengkar dengan teman, diselesaikan saat itu juga, biasanya saat bermain. Konflik diselesaikan dengan dialog, saling bicara, atau kadang sekadar berjabat tangan setelah berdebat.
Kini, banyak konflik justru membesar karena disampaikan lewat layar, bukan tatap muka. Tantangan masa kecil generasi 70–80an bukanlah komentar pedas di internet, tetapi pengalaman konkret: jatuh dari sepeda, gagal dalam lomba, ditegur guru, atau belajar menghadapi konsekuensi nyata dari tindakan sendiri.
Kesulitan sehari-hari ini menumbuhkan ketangguhan emosional—mental toughness—yang membuat mereka tahan banting menghadapi tekanan hidup dewasa. Anak masa kini sering terlindung dari hal-hal kecil semacam itu, sehingga lebih sulit membangun daya tahan mental alami.
Jika Anda tumbuh di tahun 70-an dan 80-an, Anda membawa serta paket keterampilan hidup yang tidak dibentuk oleh aplikasi, algoritma, atau kecanggihan teknologi—melainkan oleh pengalaman nyata dan ketangguhan sehari-hari.
Bukan berarti generasi sekarang lebih buruk—mereka hanya tumbuh di dunia yang berbeda.
(Kurnia)
