Warga RT 05 RW 13 Bukit Kencana Jaya, Memanfaatkan Bank Sampah Sebagai Solusi yang Kreaktif Bernilai Ekonomis

0 0
Read Time:2 Minute, 4 Second

MEDIA SUARA INDO – Persoalan sampah di lingkungan perumahan kini ditangani dengan cara berbeda oleh Tim PKK RT 05 RW 13 Bukit Kencana Jaya Kelurahan Meteseh Kota Semarang. Mereka memanfaatkan limbah sampah ini menjadi sebuah peluang dengan cara menabung di Bank sampah ditempat yang sudah di sediakan didua tempat di sekitar rumah warga RT 05.

Kegiatan ini merupakan salah satu program yang digadang-gadang sebagai jawaban atas darurat sampah yang membebani Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di Perumahan Bukit Kencana Jaya. Partisipasi warga dalam kegiatan pilah sampah ini meningkat pesat, sekaligus membuka jalan bagi perubahan budaya pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga.

“Gerakan pilah sampah ini adalah investasi jangka panjang. Dengan kebiasaan sederhana, kita bisa mengurangi beban TPST, menjaga lingkungan, sekaligus membangun budaya baru yang sehat dan bersih di masyarakat”.

Bayangkan sebuah tempat di mana sampah yang biasa kita buang setiap hari justru menjadi sesuatu yang berharga. Bukan hanya sekadar tumpukan barang tak berguna, tapi sebuah peluang untuk mendapatkan penghasilan sekaligus menjaga lingkungan tetap bersih. Itulah yang dilakukan oleh banyak warga melalui konsep bank sampah.

Bank sampah bukanlah bank seperti yang biasa kita kenal, melainkan sebuah wadah di mana masyarakat diajak untuk memilah dan mengumpulkan sampah rumah tangga yang bisa didaur ulang. Sampah plastik, kertas, kaleng, dan bahan lain yang masih bernilai ekonomi dikumpulkan, ditimbang, dan kemudian ditukar dengan uang atau barang kebutuhan sehari-hari. Dengan cara ini, sampah yang biasanya dianggap beban malah berubah menjadi tabungan.

Awalnya, mungkin terdengar sederhana, tapi di balik itu ada cerita perjuangan dan perubahan pola pikir. Banyak orang yang selama ini menganggap sampah sebagai sesuatu yang harus segera dibuang dan tidak ada gunanya. Namun, melalui edukasi dan pendekatan yang ramah, mereka mulai memahami bahwa memilah sampah sejak dari rumah adalah langkah pertama yang sangat penting. Dengan memilah sampah, proses pengelolaan menjadi lebih mudah dan efektif.

Dengan hadirnya Bank Sampah di wilayah RT 05 memberikan alternatif lain bagi warga sekitar yang hadirnya tidak sekedar berfungsi sebagai sarana ekonomi dan lingkungan, tetapi juga sebagai ruang publik bagi warga. Melalui kegiatan pengumpulan, penimbangan, dan pengelolaan sampah, mereka dapat berkumpul, berdiskusi, berbagi pengalaman, dan memperluas jejaring sosialnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa Bank Sampah memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekedar program lingkungan. Ia juga menjadi ruang interaksi sosial yang penting. Melaluii interaksi yang terjalin, terbentuk solidaritas dan kerja sama antar warga. Bank Sampah sebagai ruang publik yang terbangun dari sebuah praktik lingkungan. Antropologi tidak hanya melihat bank sampah sebagai program teknis, tetapi juga sebagai ruang hidup dimana nilai, simbol, dan interaksi sosial berlangsung.

(Sando)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *